Halaman

Senin, 26 Desember 2011

MURID DAN PENGIKUT MUHAMMAD ABDUH


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern memasuki dunia islam, terutama sesudah pembukaan abad ke-19 M, yang dalam sejarah islam di pandang sebagai permulaan priode modern. Kontak dengan Dunia Barat selanjutnya membawa ide-ide baru ke dunia islam seperti Rasionalisme, Nasionalisme, Demokrasi dan sebagainya. Semua itu menimbulkan persoalan-persoalan baru itu.
Dengan demikian timbulah pembaharuan–pembaharuan dalam dunia islam yang disebut modern dan mempunyai tujuan untuk mrmbawa umat islam kepada kemajuan, salah satu tokoh dari pembaharuan dalam islam Muhamad Abduh, perlu di tegaskan bahwa bagi Muhamad tidak cukup hanya kembali kepada ajaran-ajaran asli itu, karena zaman dan suasana umat islam zaman klasik, ajaran–ajaran asli itu perlu di sesuaikan dengan keadaan modern sekarang.
Pendapat–pendapat dan ajaran–ajaran Muhamad Abduh atas pembaharuan  Dunia islam pada umumnya terutama dunia arab melalui karangan–karangan Muhamad Abduh sendiri, dan melalui tulisan-tulisan  murid–murid serta pengikutnya seperti Muhamad Rasyid Rida dengan majalah Al-Manar dan Tafsir Al-Manar, Qasim Amin dengan buku Tahrir Al-Mal’ah, Farid Wajdi dengan Dairah Al-Ma’arif dan karangan–karangan yang lain, Syaikh Tantawi Jauhari dengan Al-Taj al-murassa ’bi Jawahir Al-Qur’an Wa Al-’Ulum, kaum intelek atasan mesir seperti Muhammad Husain Haykal dengan bukunya Hayah Muhammad; Abu Bakar dan sebagainya; Ahmad Lutfi Al-Sayyid, Ali Abd Al-Raziq, Taha Husain, dan tak boleh dilupakan Sa’ad Zaqlul, Bapak kemerdekaan Mesir.
Karangan–karangan Muhammad Abduh sendiri telah banyak diterjemahkan kedalam bahasa Turki, Urdu dan Indonesia. Di dalam Makalah ini akan membahas tentang pemikiran–pemikiran Murid dan Pengikut Muhammad Abduh yang telah di sebutkan tokoh–tokohnya diatas, Di mana ide–idenya tidak jauh dari pada pemikiran-pemikiran Muhammad Abduh.
BAB II
PEMBAHASAN

A.Murid Dan Pengikut Muhammad Abduh
Yang dimaksud dengan murid–murid ialah orang–orang yang sempat bergaul dan belajar secara formal maupun informal pada seseorang secara face to face. Adapun yang dimaksud pengikut–pengikut ialah orang–orang yang tidak sempat menjadi Murid tetapi banyak di pengaruhi oleh ide–idenya.
Seperti yang sudah kita ketahui dalam pembahasan pertama bahwa Muhammad Abduh adalah seorang Tokoh dalam pembaharu dunia islam. Beliau lahir pada 1849 di suatu desa di Mesir hilir dan wafat pada tahun 1905 dan beliau trkenal sebagai pemimpin islam di zaman modern. Dan dimasa hidupnya beliau mempunyai Murid dan Pengikut yang setia kepadanya diantaranya ialah sebagai berikut :
  1. Rasyid Rida
Rayid  Rida adalah Murid Muhammad Abduh yang terdekat. Ia lahir pada tahun 1865 di Al-Qalamun, suatu desa di Libanon yang letaknya tidak jauh dari kota Tripoli (Syiria), menurut ketrangan ia berasal dari keturunan Al-Husai, cucu Nabi Muhammad Saw. Oleh karena itu ia memakai gelar Al-Sayyid di depan namanya.
Pemikiran-pemikiran pembaharuan yang dimajukan Rasyid Rida, tidak banyak berbeda dengan ide-ide Muhammad Abduh dan Jamaludin Al-Afgani. Ia juga berpendapat  bahwa umat islam mundur karena tidak lagi menganut ajaran-ajaran islam yang sebenarnya. Pengertian umat islam tentang ajaran-ajaran agama salah dan perbuatan-perbuatan mereka telah menyeleweng dari ajaran-ajaran islam yang sebenarnya ke dalam  Islam telah banyak masuk bid’ah yang merugikan bagi perkembangan dan kemajuan umat. Di antara bid’ah itu ialah pendapat bahwa dalam islam terdapat ajaran kekuatan batin yang membuat pmiliknya dapat memperoleh segala apa yang di kehendakinya, sedangkan kebahagian di akhirat dan dunia di peroleh, demikian Rasyid Rida,[1] melalui hukum alam yang di ciptakan Tuhan. Satu bid’ah lain yang mendapat tantangan keras dari Rasyid Rida ialah ajaran syekh–syekh Tarekat tentang tidak pentingnya hidup duniawi, tentang Tawakal, tentang pujaan dan kepatuhan berlebih–lebihan pada syekh dan wali. Oleh karena itu menurutnya umat harus dibawa kembali kepada ajaran islam yang sebenarnya, murni dari segala bid’ah yang mendatang itu. Islam murni itu sederhana sekali, sederhana dalam ibadah dan sederhana dalam muamalatnya.
Sebagai telah di sebut diatas , Rasyid Rida mengakui terdpatnya pagam fatalisme di kalangan umat islam. Ia sepaham dengan koleganya, Abd Al-Rahman Al- Kawakibi, bahwa salah satu dari sebab-sebab yang membawa kepada kemunduran umat islam ialah fatalisme (aqidatul jabi) itu. Dan selanjutnya salah satu sebab yang membawa masyarakat Eropa kepada kemajuan ialah paham Dinamika yang terdapat di kalangan mereka. Islam sebenarnya mengandung ajaran dinamika, orang islam di suruh bersikap aktif. Dinamika dan sikap aktif itu terkandung dalam kata jihad. Jihad dalam arti berusaha keras, dan sedia memberi pengorbanan, harta bahkan juga jiwa, untuk mencapai tujuan perjuangan. Paham jihad serupa inilah yang menyebabkan umat islam di zaman klasik dapat menguasai dunia.
Rasyid Rida, sebagai Muhammad Abduh, menghargai akal manusia, sungguh pun penghargaannya terhadap akal tidak setinggi penghargaan yang diberikan oleh gurunya. Akal dapat dipakai terhadap ajaran-ajaran mengenai hidup kemasyarakatan, tetapi tidak terhadp ibadah. Ijtihad diperlukan hanya untuk soal-soal hidup kemasyarakatan. Terhadap ayat dan hadis yang mengandung arti tegas, ijtihad tidak bisa dipakai lagi, akal dapat dipergunakan terhadap Ayat dan Hadits yang tidak mengandung arti tegas dan terhadap persoalan-persoalan  yang tidak tersebut dalam Al-Qur’an dan Hadits. Disinilah terletak dinamika islam dalam paham Rasyid Rida.

  1. Qasim Amin
Qasim Amin adalah seorang ahli hukum yang belajar di prancis dan mempunyai hubungan persahabatan yang erat dengan Muhammad Abduh, sehingga beliau di katakan murid dan pengikut Muhammad Abduh karena sempat bergaul dan belajar bersama.
Di sini terdapat perbedaan antara guru dan murid, Muhammad Abduh masih terikat pada masa lampau dan memandang peradaban islam di zaman klasik sebagai contoh yang harus ditiru, sedangkan Qasim Amin telah mulai melepaskan diri dari ikatan masa lampau dan lebih banyak menoleh ke masa depan. Di sanalah terletak peradaban islam baru yang dasarnya berbeda dengan dasar peradaban islam klasik. Kalau Rasyid Rida tidak seliberal guru. Qasim Amin sebaliknya melampaui guru dalam keliberalan.
Pemikiran Qasim Amin salah satunya ialah mengenai kedudukan wanita, ide inilah yang di kupas Qasim Amin dalam bukunya Tahrir Al-Mar’ah (”Emansipasi Wanita). Menurut pendapatnya, umat islam mundur karena kaum wanita, yang di mesir merupakan setengah dari pendududk , tidak pernah memperoleh pendidikan sekolah. Pendidikan wanita perlu, bukan hanya agar mereka dapat mengatur rumah tangga dengan baik, tetapi lebih dari itu untuk dapat memberikan didikan dasar bagi anak-anak.
Ia menantang pilihan sepihak, yaitu dari pihak pria dalam soal perkawinan, menurut pendapatnya, wanita harus di beri hak yang sama dengan pria dalam memilih jodoh. Oleh karena itu ia menuntut supaya istri diberi hak cerai, sungguhpun poligami di sebut dalam Al-Qur’an ia berpendapat bahwa islam pada hakikatnya menganjurkan monogami.
Ide Qasim Amin yang banyak menimbulkan reaksi di zamannya ialah pendapat bahwa penutupan wajah wanita dan pemisahan wanita dalam pergaulan bukanlah Ajaran Islam karna tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits. Menurut pendapatnyapenutupan wajah dan pemisahan wanita membawa kepada kedudukan rendah dan menghambat kebebasan dan pengembangan daya-daya mereka untuk mencapai kesempurnaan.

Dari berbagai pihak berdatangan kritik dan protes terhadap ide-ide yang di kemukakan Qasim Amin itu sehingga ia melihat perlu memberi jawaban yang keluar dalam bentuk buku bernama Al-Mar’ah Al-Jadidah (”wanita modern”) dalam buku itu ia lebih kuat lagi mempertahankan kebebasan wanita.
Barat memang telah mencapai peradaban yang tinggi, dan ini di dasarkan atas kemajuan ilmu pengetahuan. Peradaban yang didirikan umat islam di zaman  klasik tidak di dasarkan atas ilmu pengetahuan yang telah berkembang, karena ilmu pengetahuan modern belum lahir di waktu itu. Menurutnya peradaban islam yang lampau itu tidak dapat lagi dipakai sebagai model, untuk kemajuan umat islam seharusnya jangan lagi menoleh ke belakang, tetapi ke depan dengan menempuh jalan yang telah di tempuh barat yaitu ilmu pengetahuan modern

3. Muhammad Farid Wajdi
            Muhammad Farid Wajdi adalah seseorang yang banyak membaca dan banyak mengarang untuk membela islam terhadap serangan-serangan dari luar, salah satu bukunya bernama Al-Madaniah Wa Al-Islam (”peradaban modern dan islam”) dan di dalamnya ia menjelaskan bahwa orang barat  menilai islam dari praktek-praktek umat islam yang berada di bawah kekuasan mereka. Dalam buku itu ia mencoba menjelaskan islam  yang senenarya, islam yang tidak bertentangan dengan peradaban modern. Menurut pendapatnya ”tidak satu pun dari dasar-dasar dan teori-teori ilmiah yang membawa kepada kemajuan umat manusia seperti, trdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits sendiri”, kenyataan ini menjadi argumen kuat untuk membuktikan kebenaran islam. Dan ia juga brpendapat bahwa islam sejati adalah yang sesuai dengan peradaban.
            Farid Wajli juga mengarang ensiklopedia yang bernama ”Dairah Al-Ma’arif Al-Qur’an Al-Isyrin dan tersusun dari sepuluh jilid. Menurut keterangan buku itu ia karang tanpa bantuan orang lain. Ensiklopedi ini banyak mengandung ide-ide modern.

4. Syaikh Tantawi Jauhari
            Syaikh Tantawi Jauhari adalah Murid Muhammad Abduh yang  menonojolkan ajarannya tentang Sunatullah. Guru banyak menyebutkn Sunatullah yang tidak berubah-ubah, hukum alam yang diciptkan tuhan dan yang harus di patuhi alam dalam peredarannya. Oleh karena itu Syaikh Tantawi Jauhari banyak menulis tentang ilmu bintang dan ilmu alam dalam buku-buku Al-Jaj Al- Murassa ’bi Jawahir Al-Qur’an Al ulum (”mahkota yang dihiasi dengan permata-mata Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan”) Jamal al-’lam (”keindahan alam”), dan Al-Nizam Wa al-’alam (”peraturan dan alam”).

5. Ahmad Lutfi Al-Sayyid
            Ahmad Lutfi Al-Sayyid, seperti Muhammad Abduh dan Sa’ad Zaqlul, ia berasal dari daerah pedesaan Mesir tetapi setelah memasuki Madrasah tradisional pindah ke kairo untuk belajar pada sekolah Modern.
            Pada tahun 1889 ia meneruskan pelajaran pada Perguruan Tinggi Hukum. Di Kairo ia masuk ke dalam lingkungan teman dan murid Muhammad Abduh, ia banyak membaca  buku karangan filosof-filosof barat.
            Ide-ide Lutfi Sayyid ialah tentang ide kemerdekaan dan kebebasan. Kebebasannya ialah dalam berfikir dan kemerdekaan dalam hidup kemasyarakatan dari ikatan-ikatan politik yang berlebih-lebihan. Negara yang menjadi idamannya ialah Negara yang bercorak Liberal, sedangkan Negara yang menjadi pimpinan oleh seorang rasa yang Absolut ia tantang, karena menurut pendapatnya kemerdekaan individu erat hubungannya dengan kemerdekaan Negara. Lutfi Sayyid juga menganut paham Nasionalisme, dan Nasionalismenya ialah Nasionalisme Mesir.
6. Taha Husain
            Taha Husain berasal dari keluarga petani yang dimasa kecilnya mendapat penyakit yang membuat ia kehilangan penglihatannya. Setelah lulus dari madrasah ia melanjutkan pelajarannya di Al-Azhar. Di sinilah ia bertemu dengan ide-ide Muhammad Abduh dan murid-muridnya, terutama Lutfi Sayyid. Selanjutnya ia belajar bahasa prancis, mengikuti kuliah di Universita Kairo dan kemudian pergi ke Paris. Di sana ia belajar selama empat tahun dan kawin dengan putri prancis.
            Setelah itu pada tahun 1919 ia kembali ke Kairoh dan bekerja sebagai Dosen di Universitas Kairoh dan Universitas Alexandria. Ia banyak mengarang terutama bidang Sastra Arab. Ia berpendapat bahwa sebagian besar dari Sastra Arab Jahiliah.
Taha Husain mendapat tantangan keras dan kritik, karenaide itu menghancurkan dasar keyakinan pada keorisinilan syair jahiliah. Ia ingin supaya Mesir maju dan modernseperti Eropa. Ia berpendapat bahwa untuk itu Mesir mesti mengikuti jejak Eropa.
            Taha Husain juga menganut Paham Nasionalisne Mesir, ia beserta murid-murid Muhammad Abduh lainnya tidak melepaskan diri dari ikatan Agama.

7. Ali Abd Al-Raziq
            Ali Abd Al-Rariq adalh putra dari seorang sahabat Muhammah Abduh tetapikarena masih kecil ia tidak sempat menjadi muridnya, setelah selesai dari Al-Azhar ia meneruskan studi di Oxford.
            Persoalan di zaman Ali Abd Al-Raziq ialah  tentang khalifah yang telah di hapuskan Mustafa Kamal pada tahun 1924. Dan persoalan ini menimbulkan kehebohan  di dunia islam, karena mereka menganggap sistem Khalifah merupakn ajaran daar dan penghapusannya bertentangan dengan Ilam.
            Ali Abd Al-Raziq berpendapat lain yang ia jelaskan dalam buku ”Al-Islam Wa Al-Hukm” (islam dan ketatanegaraan), menurut pendapatnya sistem pmerintahan tidak di singgung-singgung oleh Al-Qur’an dan Hadits.
            Pendapat liberal yang dikemukakan oleh Ali Abd Al-Raziq ini mendapat kritik dan tantangan kerasdari berbagai golongan umat islam yang ada pada aktu itu, termasuk Rasyid Rida seoang murid terdekat Muhamamad Abduh yang mana beliau mempertahankan sistem khalifah dan memandang pendapat Ali Abd Al-Raziq itu akan memperlemah umat islam, selain itu juga Ali Abd Al-Raziq mendapat tantangan keras yang datang dari Al-Azhar, mereka menganggap buku itu mengandung pendapat yang bertentangan denagn ajaran islam. Sehingga Ali Abd Al-Raziq tidak dapat di akui sebagai seorang ulama, dan namanya dihapus dari daftar Al-Azhar, selanjutnya ia di pecat pula dari jabatan hakim agama yang dipegangnya.

8. Sa’ad Zaglul
            Sa’ad Zaglul seorang yang dikenal dengan Bapak kemewrdekaan Mesir. Ia adlah sama dengan Muhammad Abduh, beraal dari lingkungan desa yang belum kenal pada Sekolah Modern. Pendidikan pertamanya di Madraah tradisional dan pada tahun 1871 ia melanjutkan pelajarannya di Al-Azhar dan menjadi murid jamaludin Al-Afgani dan Muhammad Abduh, bahkan ia turut serta dan pernah ditangkap bersama gurunya pada waktu menjalankan kegitan politik.
Sa’ad Zaglul pernah bekerja sebagai Pengacara dan Hakim. Maka untuk memperdalam pengetahuannya tentang Hukum Barat ia memasuki ”Perguruan Tinggi Hukum Prancis” di Kairo, namanya mulai di kenal pada tahun 1896, ia kawin dengan Putri Perdana Menteri yang ada pada waktu itu.
Tujuan politik Sa’ad Zaglul ialah mewujudkan ide gurunya, yait membatai kekuasaan otokrasi khedewi (sultan) Mesir dan melepaskan Mesir dari kekuaaan Inggri.
Sasaran politik utama Sa’ad Zaglul bukan lagi pemerintahan  khedewi, tetapi kekuaan Inggris di Mesir. Tujuan utamanya ialah kemardekaan Mesir. Dan pada tahun 1922 Mesir memperoleh kemerdekaannya.
Paham Nasionalisme Sa’ad Zaglul sesuai dengan pendapat Al-Tahtawi dan Muhammad Abduh, mengambil tanah air sebagai dasar, yang di perjuangkan  ialh Nasionalisme Mesir dan bukan Nasionalisme Arab.
Untuk kemajuan Mesir, pembaharuan dalam pendidikan dan bidang Hukum perlu diadakan. Pendidikan Mesti terbuka bagi semua orang, termasuk fakir miskin, jumlah sekolah ia perbanyak, dan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar secara berangsur ia tukar dengan  Bahasa Arab. Dalam Bidang Politik ia dirikan ”Perguruan Tinggi Hakim Agama”. Tujuannya untu memberikan pendidikan Modern bagi calon-calon Hakim Agama. Sebagaimana gurunya, ia juga menentang pemerintahan Absolut dan ia menghendaki pemerintahan Demokrasi, yang harus beruasaha mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat, baik Islam maupun non Islam.



BAB III
PENUTUP
  1. Kesimpulan
Dalam dunia islam yang disebut modern dan mempunyai tujuan untuk membawa umat islam kepada kemajuan. Salah satu tokoh dari pembaharuan dalam islam ialah Muhammad Abduh. Pendapat – pendapat dan ajaran – ajarannya atas pembaharu dunia islam yang pada umumnya terutama dunia arab melalui karangan – karangan Muhammad Abduh dan melalui tulisan – tulisan murid serta pengikutnya, diantara murid dan pengikut muhammad abduh ialah :
  1. Rasyid Ridho
Pemikirannya tidak banyak berbeda dengan ide – ide Muhammad Abduh dan Jamaludin Al – Afgani, ia berpendapat bahwa umat islam mundur karna tidak lagi menganut ajaran – ajaran islam yang sebenarnya.
  1. Qosim Amin
Qosim Amin adalah seorang ahli hukum yang belajar diperancis dan mempunyai hubungan persahabatan dengan muhammad abduh, sehingga beliau dikatan murid dan pengikut muhammad abduh. Disini terdapat perbedaan antara guru dan murid, muhammad abduh masih terikat pada masa lampau, sedangkan Qosim Amin telah mulai melepaskan diri dari ikatan masa lampau dan lebih banyak ke masa depan.
  1. Muhammad Faridh Wajdi
Beliau adalah seorang banyak membaca dan mengarang untuk membela islam terhadap serangan dari luar. Diantara karangan – karangan ialah  ”Al – Madaniah Wa Al – islam ”(peradaban modern dan islam)” dan juga buku Ensiklopedia yang bernama ”Dairah Al – Ma’arif Al - Qur’an Al – Isyrim yang tersususn dari sepuluh jilid.
  1. Syaikh Tantawi Jauhari
Syaikh Tantawi Jauhari adalah murid muhammad abduh yang menonjolkan ajaran tentang sunatullah. Oleh karena itu beliau banyak menulis tentang ilmu binatang dan ilmu alam, dalam bukunya Al – Taj Al – murassa’ bi jawahir Al - Qur’an Al – ’Ulum, Jamal Al – Alam dan Al – Nizam Wa Al – ’Alam.
  1. Ahmad Lutfi Al – sayyidi
Ide – ide lutfi sayid ialah tentang ide kemerdekaan dan kebebasan, seperti muhammad abduh dan sa’ad zaglul yang menentang pemimpin yang absolut.
  1. Taha Husain
Ia berpendapat bahwa sebagian besar dari sastra arab jahiliah. Taha Husain mendapat tantangan keras dan kritik, karena ide itu menghancurkan dasar keyakinan pada keorisinilan syair jahiliah.
  1. Ali Abd Al – Raziq
Beliau adalah seorang yang tidak sempat menjadi muridnya akan tetapi beliau menganut ide – ide muhammad abduh. Beliau menganut paham liberal salah satu persoalan di zamannya ialah tentang kholifah yang mana menurutnya bukan ajaran dasar dan penghapusannya tidak bertentangan dengan islam karena sistem pemerintahan tidak disinggung oleh Al-Quran dan hadits.
  1. Saad zaglul
 Saad zaglul ialah seseorang yang dikenal dengan bapak kemerdekaan Mesir. Ia menganut paham Nasionalisme sesuai dengan pendapat Al-Tahtawi dan Muhammad Abduh, yaitu mengambil tanah air sebagai dasar. Yang diperjuangkannya ialah Nasionalisme Mesir dan bukan Nasionalisme Arab.  









KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT. Karena atas curahan nikmatnya penulis bisa menyelesaikan penyususnan makalah ini. Dimana makalah ini diajukan sebagai salah satu tugas pada mata kuliah PPMDI dalam Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) AL – Khairiyah Citangkil – Cilegon. Dengan judul ”MURID DAN PENGIKUT MUHAMMAD ABDUH”. Dan dengan selesainyai penyususnan makalah ini, penyususn mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak – pihak yang telah membantu.

Dalam penulisan makalah ini disadari bahwa masih banyak kekurangan dan kelemahan terutama dalam bidang isi dan sistematika penulisannya. Untuk itu tegur sapa dan koreksi serta saran yang bersifat membangun dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Cilegon, Oktober 2009



          Penyusun









i
 
 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...............................................................................   i
DAFTAR ISI ..............................................................................................   ii
BAB I PENDAHULUAN .........................................................................   1
A.    Latar Belakang Makalah ...............................................................   1
BAB II PEMBAHASAN ...........................................................................   2
A.    Murid Dan Pengikut Muhammad Abduh ....................................   2
1.      Rasyid Ridho ...................................................................   2
2.      Qosim Amin .....................................................................   4
3.      Muhammad Farid Wajdi ..................................................   5
4.      Syekh Tantawi Jauhari .....................................................   5
5.      Ahmad Lutfi Sayyid ........................................................   6
6.      Taha Husain .....................................................................   6
7.      Ali Abd AL – Raziq ........................................................   7
8.      Saad Zaglul ......................................................................   8
BAB III PENUTUP ...................................................................................   9
A.    Kesimpulan ...............................................................................   9
DAFTAR PUSTAKA
           









ii
 
 


     1. Dr. I.A. al- ‘adwi, Rasyid Rida, Al – Imann  Al – Mujahid (Kairo : Maktabah Miss, t.t) , Hal, 154
  

Kamis, 22 Desember 2011

MULTIPLE INTELEGENSI (KECERDASAN MAJEMUK)


TEORI MULTIPLE INTELEGENSI (KECERDASAN MAJEMUK) DALAM PEMBELAJARAN
A. PENDAHULUAN
Pendidikan adalah hal yang sangat penting untuk diperoleh anak-anak ataupun orang dewasa. Pendidikan menjadi salah satu modal bagi seseorang agar dapat berhasil dan mampu meraih kesuksesan dalam kehidupannya. Mengingat akan pentingnya pendidikan, maka pemerintah pun mencanangkan program wajib belajar 9 tahun, melakukan perubahan kurikulum untuk mencoba mengakomodasi kebutuhan siswa. Kesadaran akan pentingnya pendidikan bukan hanya dirasakan oleh pemerintah, tetapi juga kalangan swasta yang mulai melirik dunia pendidikan dalam mengembangkan usahanya. Sarana untuk memperoleh pendidikan yang disediakan oleh pemerintah masih dirasakan sangat kurang dalam upaya memenuhi kebutuhan masyarakat akan pendidikan.
Hal ini terlihat dengan semakin menjamurnya sekolah-sekolah swasta yang dimulai dari Taman Kanak-Kanak sampai perguruan tinggi. Kendala bagi dunia pendidikan untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas adalah masih banyaknya sekolah yang mempunyai pola pikir tradisional di dalam menjalankan proses belajarnya yaitu sekolah hanya menekankan pada kemampuan logika (matematika) dan bahasa. Kenyataan ini senada dengan yang diungkapkan oleh Seto Mulyadi (2003), seorang praktisi pendidikan anak, bahwa suatu kekeliruan yang besar jika setiap kenaikan kelas, prestasi anak didik hanya diukur dari kemampuan matematika dan bahasa. Dengan demikian sistem pendidikan nasional yang mengukur tingkat kecerdasan anak didik yang semata-mata hanya menekankan kemampuan logika dan bahasa perlu direvisi.
Kecerdasan intelektual tidak hanya mencakup dua parameter tersebut, di atas tetapi juga harus dilihat dari aspek kinetis, musical, visual-spatial, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis (Kompas, 6 Agustus 2003). Jenisjenis kecerdasan intelektual tersebut dikenal dengan sebutan kecerdasan jamak (Multiple Intelligences) yang diperkenalkan oleh Howard Gardner padan tahun 1983. Gardner mengatakan bahwa kita cenderung hanya menghargai orangorang yang memang ahli di dalam kemampuan logika (matematika) dan bahasa. Kita harus memberikan perhatian yang seimbang terhadap orangorang yang memiliki talenta (gift) di dalam kecerdasan yang lainnya seperti artis, arsitek, musikus, ahli alam, designer, penari, terapis, entrepreneurs, dan lain-lain.
Sangat disayangkan bahwa saat ini banyak anak-anak yang memiliki talenta (gift), tidak mendapatkan reinforcement di sekolahnya. Banyak sekali anak yang pada kenyataannya dianggap sebagai anak yang “Learning Disabled” atau ADD (Attention Deficit Disorder), atau Underachiever, pada saat pola pemikiran mereka yang unik tidak dapat diakomodasi oleh sekolah. Pihak sekolah hanya menekankan pada kemampuan logika (matematika) dan bahasa.
Teori Multiple Intelligences yang menyatakan bahwa kecerdasan meliputi delapan kemampuan intelektual. Teori tersebut didasarkan pada pemikiran bahwa kemampuan intelektual yang diukur melalui tes IQ sangatlah terbatas karena tes IQ hanya menekan pada kemampuan logika (matematika) dan bahasa (Gardner, 2003). Padahal setiap orang mempunyai cara yang unik untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Kecerdasan bukan hanya dilihat dari nilai yang diperoleh seseorang. Kecerdasan merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat suatu masalah, lalu menyelesaikan masalah tersebut atau membuat sesuatu yang dapat berguna bagi orang lain.
Pola pemikiran tradisional yang menekankan pada kemampuan logika (matematika) dan bahasa memang sudah mengakar dengan kuat pada diri setiap guru di dalam menjalankan proses belajar. Bahkan, dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Insan Kancil (Kompas, 13 Oktober 2003), pendidikan Taman Kanak-Kanak saat ini cenderung mengambil porsi Sekolah Dasar. Sekitar 99 persen, Taman Kanak-Kanak mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Artinya, pendidikan Taman Kanak-Kanak telah menekankan pada kecerdasan akademik, tanpa menyeimbanginya dengan kecerdasan lain. Hal ini berarti pula bahwa sistem pendidikan yang dilaksanakan oleh guru-guru masih tetap mementingkan akan kemampuan logika (matematika) dan bahasa.
Menurut Moleong, dalam melaksanakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), guru dan orang tua hendaknya bersinergi dalam mengembangkan berbagai jenis kecerdasan, terutama terhadap anak usia dini. Hal ini dimaksudkan agar siswa tidak gagap dalam melaksanakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Anak-anak usia 0 – 8 tahun harus diperkenalkan dengan kecerdasan jamak (Multiple Intelligences). Guru hendaknya tidak terjebak pada kecerdasan logika semata.
Multiple Intelligences yang mencakup delapan kecerdasan itu pada dasarnya merupakan pengembangan dari kecerdasan otak (IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ). Semua jenis kecerdasan perlu dirangsang pada diri anak sejak usia dini, mulai dari saat lahir hingga awal memasuki sekolah (7 – 8 tahun). (Kompas, 13 Oktober 2003). Yang menjadi pertanyaan terbesar, mampukah dan bersediakah setiap insan yang berkecimpung dalam dunia pendidikan mencoba untuk mengubah pola pengajaran tradisional yang hanya menekankan kemampuan logika (matematika) dan bahasa? Bersediakah segenap tenaga kependidikan bekerjasama dengan orang tua bersinergi untuk mengembangkan berbagai jenis kecerdasan pada anak didik di dalam proses belajar yang dilaksanakan di lingkungan lembaga pendidikan?
Kecerdasan (Inteligensi) secara umum dipahami pada dua tingkat yakni : Kecerdasan sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran. Kecerdasan sebagai kemampuan untuk memproses informasi sehingga masalah-masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan (problem solved) dan dengan demikian pengetahuan pun bertambah. Jadi mudah dipahami bahwa kecerdasan adalah pemandu bagi kita untuk mencapai sasaran-sasaran kita secara efektif dan efisien. Dengan kata lain, orang yang lebih cerdas, akan mampu memilih strategi pencapaian sasaran yang lebih baik dari orang yang kurang cerdas. Artinya orang yang cerdas mestinya lebih sukses dari orang yang kurang cerdas. Yang sering membingungkan ialah kenyataan adanya orang yang kelihatan tidak cerdas (sedikitnya di sekolah) kemudian tampil sukses, bahkan lebih sukses dari dari rekan-rekannya yang lebih cerdas, dan sebaliknya.
Prestasi seseorang ditentukan juga oleh tingkat kecerdasannya (Inteligensi). Walaupun mereka memiliki dorongan yang kuat untuk berprestasi dan orang tuanya memberi kesempatan seluas-luasnya untuk meningkatkan prestasinya, tetapi kecerdasan mereka yang terbatas tidak memungkinkannya untuk mencapai keunggulan. Tingkat Kecerdasan Tingkat kecerdasan (Intelegensi) bawaan ditentukan baik oleh bakat bawaan (berdasarkan gen yang diturunkan dari orang tuanya) maupun oleh faktor lingkungan (termasuk semua pengalaman dan pendidikan yang pernah diperoleh seseorang; terutama tahun-tahun pertama dari kehidupan mempunyai dampak kuat terhadap kecersan seseorang). Secara umum intelegensi dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Kemampuan untuk berpikir abstrak.
2. Untuk menangkap hubungan-hubungan dan untuk belajar.
3. Kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi baru.
Perumusan pertama melihat inteligensi sebagai kemampuan berpikir. Perumusan kedua sebagai kemampuan untuk belajar dan perumusan ketiga sebagai kemampuan untuk menyesuaikan diri. Ketiga-tiganaya menunjukkan aspek yang berbeda dari intelegensi, namun ketiga aspek tersebut saling berkhaitan. Keberhasilan dalam menyesuaikan diri seseorang tergantung dari kemampuannya untuk berpikir dan belajar. Sejauhmana seseorang dapat belajar dari pengalaman-pengalamannya akan menentukan penyesuaian dirinya. Ungkapan-ungkapan pikiran, cara berbicara, dan cara mengajukan pertanyaan, kemampuan memecahkan masalah, dan sebagainya mencerminkan kecerdasan. Akan tetapi, diperlukan waktu lama untuk dapat menyimpulkan kecerdasan seseorang berdasarkan pengamatan perilakunya, dan cara demikian belum tentu tepat pula. Oleh karena itu, para ahli telah menyusun bermacam-macam tes inteligensi yang memungkinkan kita dalam waktu yang relatif cepat mengetahui tingkat kecerdasan seseorang. Inteligensi seseorang biasanya dinyatakan dalam suatu kosien inteligensi Intelligence Quotient(IQ).
Apakah hanya kecerdasan (yang diukur dengan tes intelegensi dan menghasilkan IQ) yang menentukan keberbakatan seseorang ? barangkali untuk bakat intelegtual masih tepat jika IQ menjadi kriteria (patokan) utama, tetapi belum tentu untuk bakat seni, bakat kreatif-produktif, dan bakat kepemimpinan. Memang dulu para ahli cenderung untuk mengidentifikasi bakat intelektual berdasarkan tes intelegensi semata-mata, dalam penelitian jangka panjangnya mengenai keberbakatan menetapkan IQ 140 untuk membedakan antara yang berbakat dan tidak. Akan tetapi, akhir-akhir ini para ahli makin menyadari bahwa keberbakatan adalah sesuatu yang majemuk, artinya meliputi macam-macam ranah atau aspek, tidutak hanya kecerdasan.
Keberbakatan dan Anak Berbakat Renzulli, dkk.(1981) dari hasil-hasil penelitiannya menarik kesimpulan bahwa yang menentukan keberbakatan seseorang adalah pada hakekatnya tiga kelompok (cluster) ciri-ciri, yaitu : kemampuan di atas rata-rata, kreativitas, pengikatan diri (tangung jawab terhadap tugas). Seseorang yang berbakat adalah seseorang yang memiliki ketiga ciri tersebut. Masing-masing ciri mempunyai peran yang sama-sama menentukan. Seseorang dapat dikatakan mempunyai bakat intelegtual, apabila ia mempunyai intelegensi tinggi atau kemampuan di atas rata-rata dalam bidang intelektual yang antara lain mempunyai daya abstraksi, kemampuan penalaran, dan kemampuan memecahkan masalah). Akan tetapi, kecerdasan yang cukup tinggi belum menjamin keberbakatan seseorang. Kreatifitas sebagai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya, adalah sama pentingnya. Demikian juga berlaku bagi pengikatan diri terhadap tugas yang mendorong seseorang untuk tekun dan ulet meskipun mengalami macam-macam rintangan dan hambatan, melakukan dan menyelesaikan tugas yang telah menjadi tanggung jawabnya, karena ia telah mengikatnya diri terhadap tugas tersebut atas kehendaknya sendiri.
Adapun yang dimaksud dengan anak berbakat adalah mereka yang karena memiliki kemampuan-kemampuan yang unggul dan mampu memberikan prestasi yang tinggi. Anak-anak ini membutuhkan program pendidikan yang berdeferensiasi atau pelayanan yang di luar jangkauan program sekolah biasa, agar dapat mewujudkan bakat-bakat mereka secara optimal, baik bagi pengembangan diri maupun untuk dapat memberikan sumbangan yang bermakna bagi kemajuan masyarakat dan negara. Bakat-bakat tersebut baik sebagai potensi maupun yang sudah terwujud meliputi :kemampuan intelektual umum, kemampuan berpikir kreatif-produktif, kemampuan dalam salah satu bidang seni, kemampuan psikomotor, kemampuan psikososial seperti bakat kepemimpinan. Keberbakatan itu meliputi bermacam-macam bidang, namun biasanya seseorang mempunyai bakat istimewa dalam salah satu bidang saja. Dan tidak pada semua bidang. Misalnya : Si A menonjol dalam matematika, tetapi tidak dalam bidang seni. Si B menunjukkan kemapuan memimpin, tetapi prestasi akademiknya tidak terlalu menonjol. Hal ini kadang-kadang dilupakan oleh pendidik. Mereka menganggap bahwa seseorang telah diidentifikasi sebagai berbakat harus menonjol dalam semua bidang. Selanjutnya perumusan tersebut menekankan bahwa anak berbakat mampu memberikan prestasi yang tinggi. Mampu belum tentu terwujud. Contoh Ada anak-anak yang sudah dapat mewujudkan bakat mereka yang unggul, tetapi ada pula yang belum. Bakat memerlukan pendidikan dalam latihan agar dapat terampil dalam restasi yang unggul.
B. PEMBAHASAN
1. Konsep Multiple Intelegenci
Konsep Multiple Intelegensi (MI), menurut Gardner (1983) dalam bukunya Frame of Mind: The Theory of Multiple intelegences, ada delapan jenis kecerdasan yang dimiliki setiap individu yaitu linguistik, matematis-logis, spasial, kinestetik-jasmani, musikal, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Melalui delapan jenis kecerdasan ini, setiap individu mengakses informasi yang akan masuk ke dalam dirinya. Karena itu Amstrong (2002) menyebutkan, kecerdasan tersebut merupakan modalitas untuk melejitkan kemampuan setiap siswa dan menjadikan mereka sebagai sang juara, karena pada dasarnya setiap anak cerdas. Sebelum menerapkan MI sebagai suatu strategi dalam pengembangan potensi seseorang, perlu kita kenali atau pahami ciri-ciri yang dimiliki seseorang.
1. Kecerdasan Linguistik, umumnya memiliki ciri antara lain (a) suka menulis kreatif, (b) suka mengarang kisah khayal atau menceritakan lelucon, (c) sangat hafal nama, tempat, tanggal atau hal-hal kecil, (d) membaca di waktu senggang, (e) mengeja kata dengan tepat dan mudah, (f) suka mengisi teka-teki silang, (f) menikmati dengan cara mendengarkan, (g) unggul dalam mata pelajaran bahasa (membaca, menulis dan berkomunikasi).
2. Kecerdasan Matematika-Logis, cirinya antara lain: (a) menghitung problem aritmatika dengan cepat di luar kepala, (b) suka mengajukan pertanyaan yang sifatnya analisis, misalnya mengapa hujan turun?, (c) ahli dalam permainan catur, halma dsb, (d) mampu menjelaskan masalah secara logis, (d) suka merancang eksperimen untuk membuktikan sesuatu, (e) menghabiskan waktu dengan permainan logika seperti teka-teki, berprestasi dalam Matematika dan IPA.
3. Kecerdasan Spasial dicirikan antara lain: (a) memberikan gambaran visual yang jelas ketika menjelaskan sesuatu, (b) mudah membaca peta atau diagram, (c) menggambar sosok orang atau benda persis aslinya, (d) senang melihat film, slide, foto, atau karya seni lainnya, (e) sangat menikmati kegiatan visual, seperti teka-teki atau sejenisnya, (f) suka melamun dan berfantasi, (g) mencoret-coret di atas kertas atau buku tugas sekolah, (h) lebih memahamai informasi lewat gambar daripada kata-kata atau uraian, (i) menonjol dalam mata pelajaran seni.
4. Kecerdasan Kinestetik-Jasmani, memiliki ciri: (a) banyak bergerak ketika duduk atau mendengarkan sesuatu, (b) aktif dalam kegiatan fisik seperti berenang, bersepeda, hiking atau skateboard, (c) perlu menyentuh sesuatu yang sedang dipelajarinya, (d) menikmati kegiatan melompat, lari, gulat atau kegiatan fisik lainnya, (e) memperlihatkan keterampilan dalam bidang kerajinan tangan seperti mengukir, menjahit, memahat, (f) pandai menirukan gerakan, kebiasaan atau prilaku orang lain, (g) bereaksi secara fisik terhadap jawaban masalah yang dihadapinya, (h) suka membongkar berbagai benda kemudian menyusunnya lagi, (i) berprestasi dalam mata pelajaran olahraga dan yang bersifat kompetitif.
5. Kecerdasan Musikal memiliki ciri antara lain: (a) suka memainkan alat musik di rumah atau di sekolah, (b) mudah mengingat melodi suatu lagu, (c) lebih bisa belajar dengan iringan musik, (d) bernyanyi atau bersenandung untuk diri sendiri atau orang lain, (e) mudah mengikuti irama musik, (f) mempunyai suara bagus untuk bernyanyi, (g) berprestasi bagus dalam mata pelajaran musik.
6. Kecerdasan Interpersonal memiliki ciri antara lain: (a) mempunyai banyak teman, (b) suka bersosialisasi di sekolah atau di lingkungan tempat tinggalnya, (c) banyak terlibat dalam kegiatan kelompok di luar jam sekolah, (d) berperan sebagai penengah ketika terjadi konflik antartemannya, (e) berempati besar terhadap perasaan atau penderitaan orang lain, (f) sangat menikmati pekerjaan mengajari orang lain, (g) berbakat menjadi pemimpin dan berperestasi dalam mata pelajaran ilmu sosial.
7. Kecerdasan Intrapersonal memiliki ciri antara lain: (a) memperlihatkan sikap independen dan kemauan kuat, (b) bekerja atau belajar dengan baik seorang diri, (c) memiliki rasa percaya diri yang tinggi, (d) banyak belajar dari kesalahan masa lalu, (e) berpikir fokus dan terarah pada pencapaian tujuan, (f) banyak terlibat dalam hobi atau proyek yang dikerjakan sendiri.
8. Kecerdasan Naturalis, memiliki ciri antara lain: (a) suka dan akrab pada berbagai hewan peliharaan, (b) sangat menikmati berjalan-jalan di alam terbuka, (c) suka berkebun atau dekat dengan taman dan memelihara binatang, (d) menghabiskan waktu di dekat akuarium atau sistem kehidupan alam, (e) suka membawa pulang serangga, daun bunga atau benda alam lainnya, (f) berprestasi dalam mata pelajaran IPA, Biologi, dan lingkungan hidup.
Keunikan yang dikemukakan Gardner adalah, setiap kecerdasan dalam upaya mengelola informasi bekerja secara spasial dalam sistem otak manusia. Tetapi pada saat mengeluarkannya, ke delapan jenis kecerdasan itu bekerjasama untuk menghasilkan informasi sesuai yang dibutuhkan.
2. Mendidik Anak Cerdas dan Berbakat
Mengembangkan kecerdasan majemuk anak merupakan kunci utama untuk kesuksesan masa depan anak. Apa itu kecerdasan majemuk ? Sebagai orang tua masa kini, kita sering kali menekankan agar anak berprestasi secara akademik di sekolah. Kita ingin mereka menjadi juara dengan harapan ketika dewasa mereka bisa memasuki perguruan tinggi yang bergengsi. Kita sebagai masyarakat mempunyai kepercayaan bahwa sukses di sekolah adalah kunci utama untuk kesuksesan hidup di masa depan. Pada kenyataannya, kita tidak bisa mengingkari bahwa sangat sedikit orang-orang yang sukses di dunia ini yang menjadi juara di masa sekolah. Bill Gates (pemilik Microsoft), Tiger Wood (pemain golf) adalah beberapa dari ribuan orang yang dianggap tidak berhasil di sekolah tetapi menjadi orang yang sangat berhasil di bidangnya. Kemudian di sinilah muncul pertanyaan sebagai berikut :
Kalau IQ ataupun prestasi akademik tidak bisa dipakai untuk meramalkan sukses seorang anak di masa depan, lalu apa ? Apa yang harus dilakukan orang tua supaya anak-anak mempunyai persiapan cukup untuk masa depanya ?
Kemudian jawabannya adalah :
Prestasi dalam kecerdasan majemuk (multiple Intelligence)dan bukan hanya prestasi akademik. Kecerdasan majemuk Kemungkinan anak untuk meraih sukses menjadi sangat besar jika anak dilatih untuk meningkatkan kecerdannya yang majemuk itu. Membangun seluruh kecerdasan anak adalah ibarat membangun sebuah tenda yang mempunyai beberapa tongkat sebagai penyangganya. Semakin sama tinggi tongkat-tongkat penyangganya, semakin kokoh pulalah tenda itu berdiri. Untuk menjadi sungguh-sungguh cerdas berarti memiliki skor yang tinggi pada seluruh kecerdasan majemuk tersebut. Walaupun sangat jarang seseorang memiliki kecerdasan yang tinggi di semua bidang, biasanya orang yang benar-benar sukses memiliki kombinasi 4 atau 5 kecerdasan yang menonjol. Albert Einstein, beliau sangat terkenal jenius di bidang sains, ternyata juga sangat cerdas dalam bermain biola dan matematika. Demikian pula Leonardo Da Vinci yang memiliki kecerdasan yang luar biasa dalam bidang olah tubuh, seni arsitektur, matematika, dan fisika. Penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik saja tidak cukup lagi seseorang untuk mengembangkan kecerdasannya secara maksimal. Justru peran orang tua dalam memberikan latihan-latihan dan lingkungan yang mendukung jauh lebih penting dalam menentukan perkembangan kecerdasan seorang anak. Jadi untuk menjamin anak yang berhasil, kita tidak bisa menggantungkan pada sukses sekolah semata. Kedua orang tua harus berusaha sebaik mungkin untuk menentukan dan mengembangkan sebanyak mungkin kecerdasan yang memiliki oleh masing-masing anak.
3. Sukses dan Kecerdasan
Kecerdasan memang bukan satu-satunya elemen sukses. John Wareham (1992), mengatakan ada 10 (sepuluh) unsur pokok untuk menjadi eksekutif yang sukses yaitu :
1. Kemampuan menampilkan pesona diri yang tepat
2. Kemampuan mengelola energi diri yang baik
3. Kejelasan dan kesehatan sistem nilai pribadi dan kontrak-kontrak batin
4. Kejelasan sasaran-sasaran hidup yang tersurat maupun yang tersirat
5. Kecerdasan yang memadai (dalam arti penalaran)
6. Adanya kebiasaan kerja yang baik
7. Keterampilan antar manusia yang baik
8. Kemampuan adaptasi dan kedewasaan emosional
9. Pola kepribadian yang tepat dengan tuntutan pekerjaan
10. Kesesuaian tahap dan arah kehidupan dengan espektasi gaya hidup.
Dale Carnegie (1889-1955), bahkan tidak menyebutkan kecerdasan secara eksplisit (dalam pengertian umum) sebagai elemen keberhasilan. Beliau mengatakan bahwa untuk berhasil dibutuhkan 10 (sepuluh Kualitas) yaitu :
1. Rasa percaya diri yang berlandaskan konsep diri yang sehat,
2. Keterampilan berkomunikasi yang baik,
3. Keterampilan antar manusia yang baik,
4. Kemampuan memimpin diri sendiri dan orang lain,
5. Sikap positip terhadap orang, kerja dan diri sendiri,
6. Keterampilan menjual ide dan gagasan,
7. Kemampuan mengingat yang baik,
8. kemampuan mengatasi masalah, stres dan kekuatiran,
9. Antusiasme yang menyala-nyala, dan
10. Wawasan hidup yang luas.
Jadi jelaslah bahwa kecerdasan, yang biasanya diukur dengan skala IQ, memang bukan elemen tunggal atau tiket menuju sukses. John Wareham, menyimpulkan hal di atas sesudah ia mewawancarai puluhan ribu calon eksekutif dan mensuplai ribuan eksekutif ke banyak perusahaan, dalam peranannya sebagai ” head Hunter ”. Begitu juga Dale Carnegie tiba pada kesimpulannya sesudah ia mewawancarai banyak tokoh sukses kontemporer pada jamannya dan sesudah membaca ribuan biografi dan otobiografi orang-orang sukses dari segala macam lapangan kehidupan.
C. PENUTUP
1. Kesimpulan
Kecerdasan sebagai kemampuan untuk memproses informasi sehingga masalah-masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan (problem solved) dan dengan demikian pengetahuan pun bertambah. Jadi mudah dipahami bahwa kecerdasan adalah pemandu bagi kita untuk mencapai sasaran-sasaran kita secara efektif dan efisien. Kecerdasan merupakan suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran. Tingkat kecerdasan (Intelegensi) ditentukan oleh bakat bawaan berdasarkan gen yang diturunkan dari orang tuanya. Secara umum intelegensi dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Kemampuan untuk berpikir abstrak.
2. Kemampuan untuk menangkap hubungan-hubungan dan untuk belajar
3. Kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi baru.
Ciri-ciri keberbakatan seseorang adalah, kemampuan di atas rata-rata, kreativitas, pengikatan diri. Anak berbakat adalah mereka yang karena memiliki kemampuan yang unggul dan mampu memberikan prestasi yang tinggi. Bakat-bakat tersebut baik sebagai potensi maupun yang sudah terwujud meliputi :kemampuan intelektual umum, kemampuan berpikir kreatif-produktif, kemampuan dalam salah satu bidang seni, kemampuan psikomotor, kemampuan psikososial. Mengembangkan kecerdasan majemuk anak merupakan kunci utama untuk kesuksesan masa depan anak. Peran orang tua dalam memberikan latihan-latihan dan lingkungan yang mendukung jauh lebih penting dalam menentukan perkembangan kecerdasan seorang anak.
2. Saran
Pemerintah hendaknya mengadakan seminar tentang kecerdasan oleh seorang pakar psikologi sehingga dapat memotivasi baik orangtua maupun guru dalam memberikan bimbingan kepada anaknya. Kita sebagai masyarakat mempunyai kepercayaan bahwa sukses di sekolah adalah kunci utama untuk kesuksesan hidup di masa depan. Maka perlu adanya pembinaan para guru agar bisa mencerdaskan siswa terutama pendidikan yang ada di lingkungan sekolah.
Daftar Pustaka
http//:gemasastrin.htm. Teori Multiple Intelligences dalam Pendidikan Anak. Des. 2008
Jurnal Pendidikan Penabur,No 04/Th IV/Juli 2005
Http//renggani.blogspot.com/2007/07 Multiple Intelligences-Kecerdasan Mejemuk.html
http:sepia.blogsome.com/muthahari-career-day. Multiple Intelegensi (Kecerdasan Majemuk) januari-2007.
http//:unhalu.ac.id/staff/blog.latahang. Penerapa Multiple Intelegency dalam Pembelajara Fisika, Pebruari. 2009
Wikipedia, File///F./Theory_of_Multiple_Intelligences.htm
disalin dari : myfortuner.wordpress.com

KECERDASAN MAJEMUK ( MULTIPLE INTELEGENSI ) DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN IP


oleh
Sunardi ,S.Pd.(SMPN1 Sungai Lilin MUBA Sumsel/Alumni FKIP Fisika UNSRI)
Sri Wahyuni,S.Pd. (SMPN 1 Lembang jaya Solok SUMBAR/Alumni Pend Biologi UNP)
Tanti Kafitani Syafi'i,S.Pd. (SMPN 1 Sp Kiri Subulussalam NAD/Alumni Pend Fisika UPI)
A. Pengertian
Kecerdasan ( intelegensi ) adalah kemampuan untuk melakukan abstraksi, serta berpikir logis dan cepat sehingga dapat bergerak dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru. Kemampuan kognitif, psikomotor, dan afektif yang dimiliki seseorang disebut dengan kecerdasan. ( Amsal Amri, 2008 : 49 ), sedangkan Howard Garder ( dalam Sunaryo Kartadinata, 2008 : 6 ) mendefinisikan kecerdasan sebagai :
1. Kemampuan memecahkan masalah yang muncul dalam kehidupan nyata.
2. Kemampuan melahirkan masalah baru untuk dipecahkan.
3. Kemampuan menyiapkan atau menawarkan suatu layanan yang bermakna dalam kehidupan kultur tertentu.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki seseorang. Kemampuan-kemampuan yang dimiliki seseorang tidak akan semuanya sama dengan kemampuan-kemampuan yang dimiliki orang lain, karena kemampuan banyak jenisnya ( beranekaragam ), dan keanekaragaman dari kemampuan-kemampuan itu disebut dengan kecerdasan majemuk ( multiple intelegensi ).
Kecerdasan majemuk yang merupakan keanekaragaman kemampuan yang menyangkut beberapa bidang.
Menurut Gardner, 1983 ( dalam Linda Campbell, 2006 ) kecerdasan atau intelegensi ada 10 macam yaitu:
1. Kecerdasan linguistic ( Linguistik intelligence )
Adalah kemampuan untuk berfikir dalam bentuk kata-kata dan menggunakan bahasa untuk mengekpresikan dan menghargai makna yang komplek, yang meliputi kemampuan membaca, mendengar, menulis, dan berbicara.
2. Intelegensi logis-matematis ( Logical matematich)
Adalah kemampuan dalam menghitung, mengukur dan mempertimbangkan proposisi dan hipotesis serta menyelesaikan operasi-operasi matematika,
3. Intelegensi Musik ( Musical intelegence )
Intelegensi musik adalah kecerdasan seseorang yang berhubungan dengan sensitivitas pada pola titik nada, melodi, ritme, dan nada. Musik adalah bahasa pendengaran yang menggunakan tiga komponen dasar yaitu intonasi suara, irama dan warna nada yang memakai system symbol yang unik.
4. Intelegensi kinestetik.
Kinestetik adalah belajar melalui tindakan dan pengalaman melalui panca indera.
Intelegensi kinestetik adalah kemampuan untuk menyatukan tubuh atau pikiran untuk menyempurnakan pementasan fisik. Dalam kehidupan sehari-hari dapat diamati pada actor,atlet atau penari, penemu, tukang emas, mekanik..
5. Intelegensi Visual-Spasial
Intelegensi visual-spasial merupakan kemampuan yang memungkinkan memvisualisasikan infoomasi dan mensintesis data-data dan konsep-konsep ke dalam metavor visual.
6. Intelegensi Interpersonal
Intelegensi interpersonal adalah kemampuan untuk memahami dan berkomunikasi dengan orang lain dilihat dari perbedaan, temperamen, motivasi, dan kemampuan.
7. Intelegensi Intrapersonal
Adalah kemampuan seseorang untuk memahami diri sendiri dari keinginan, tujuan dan system emosional yang muncul secara nyata pada pekerjaannya.
8. Intelegensi Naturalis.
Adalah kemampuan untuk mengenal flora dan fauna melakukan pemilahan-pemilahan utuh dalam dunia kealaman dan menggunakan kemampuan ini secara produktif misalnya untuk berburu, bertani, atau melakukan penelitian biologi.
9. Intelagensi Emosional.
Adalah yang dapat membuat orang bisa mengingat, memperhatikan, belajar dan membuat keputusan yang jernih tanpa keterlibatan emosi. Jadi intelegensi emosional disini berkaitan dengan sikap motivasi, kegigihan, dan harga diri yang akan mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan siswa.
10. Intelegensi Spiritual.
Adalah kemampuan yang berhubungan dengan pengakuan adanya Tuhan sebagai pencipta alam semesta beserta isinya.
Kemampuan-kemampuan yang termasuk dalam sepuluh aspek kecerdasan majemuk ( multiple intelegensi ) yang dimiliki masing-masing orang tersebut diatas merupakan potensi intelektual seseorang untuk dapat mengikuti proses pembelajaran.
Pembelajaran adalah suatu proses pengembangan kognitif, psikomor, dan afektif ketika seseorang berada pada lingkungan. Menurut Depdiknas ( 2004 ) pembelajaran adalah pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan sikap baru pada saat seseorang berintegrasi dengan informasi dan lingkungan. Pembelajaran dapat terjadi pada berbagai disiplin ilmu, salah satunya adalah Pembelajaran IPA.
Pembelajaran IPA ( Ilmu Pengetahuan Alam ) pada hakikatnya adalah pembelajaran yang berorientasi pada keadaan alam semesta beserta isinya, yang meliputi benda hidup ( mahluk hidup ) dan benda mati. Pembelajaran IPA dapat diartikan sebagai proses pengembangan aspek kognitif, psikomotor, dan afektif dalam mempelajari alam semesta beserta isinya.

B. Pengembangan Multi Intelegensi dalam Pembelajaran IPA SMP.
1. Proses Pembelajaran yang Mengembangkan Intelegensi Verbal Linguistik.
Proses pembelajaran yang mengembangkan intelegensi verbal linguistic dapat merangsang perkembangan multi intelegensi dalam setiap mata pelajaran termasuk Ilmu Pengetahuan Alam.
Beberapa cara yang dapat dilakukan dalam pembelajaran untuk mengembangkan intelegensi verbal linguistic dalam dalam pembelajaran IPA adalah mendengarkan materi yang akan dibahas dari kaset maupun dari informasi yang langsung disampaikan oleh guru, diskusi kelas, membuat hasil laporan laporan pengamatan, melakukan kegiatan wawancara, mencari bahan untuk melengkapi tugas, menulis karya ilmiah dan sebagainya.
2. Pembelajaran yang Mengembangkan Intelegensi Logika Matematika.
Dalam Ilmu Pengetahuan Alam hal yang patut diperhatikan dalam mengajar adalah penerapan konsep dasar IPA secara tepat dalam membuat keputusansetiap hari dan membantu siswa mengenal hubungan antara Ilmu Pengetauan Alam dengan teknologi dalam kehidupan masyarakat.
Penerapan Intelegensi Logika Matematika dalam pembelajaran IPA dapat melalui beberapa cara, yaitu:
1) Metoda Ilmiah
Metoda ilmiah adalah suatu cara untuk menemukan produk ilmiah dengan langkah-langkah yang logis dan matematis. Proses umum metode ilmiah secara empiris adalah:
a. Menemukan masalah.
b. Menyusun hipotesa atau dugaan sementara.
c. Menguji hipotesis dengan melakukan percobaan.
d. Menarik kesimpulan
e. Menguji kesimpulan.
2) Berfikir secara Ilmiah berdasarkan Kurikulum.
3) Logika Deduktif.
Logika deduktif adalah cara berfikir dengan menguraikan konsep yang umum ke konsep yang khusus.
Contohnya :
a. Silogisme adalah argument yang tersusun dari dasar pemikiran dan kesimpulan.
b. Diagram Venn, menggunakan lingkaran yang saling melengkapi untuk membandingkan sekumpulan informasi.
4) Logika Induktif
Logika induktif adalah cara berfikir seseorang dengan mempertimbangkan kenyataan fakta khusus kepada kasimpulan umum dengan menggunakan analogi.
5) Meningkatkan belajar dan berfikir.
Meningkatkan berfikir siswa, guru dalam pembelajaran menggunakan media pembelajaran.
6) Proses berfikir secara matematika.
Matematika mata pelajaran yang khusus berfikir abstrak dan sulit, sehingga anak tidak tertarik. Untuk itu guru dapat menyusun pembelajaran dengan pola gambar, grafik, dan pembuatan kode untuk menimbulkan keingintahuan.
7) Bekerja dengan angka-angka.
Siswa yang menyukai ketelitian akan menemukan kesenangan bekerja dengan angka-angka seperti pengukuran, peluang, masalah-masalah dalam bentuk cerita.
8) Teknologi yang meningkatkan intelegensi logi-matematika.
Siswa dapat belajar dengan efektif dengan menggunakan software yang menarik.
3. Proses Pembelajaran yang Mengembangkan Intelegensi Musik.
Musik memilki kaitan yang erat dengan emosional seseorang, yaitu:
a. Memberikan suasana yang ramah ketika siswa memasuki ruangannya.
b. Menawarkan efek yang meredakan setelah melakukan aktivitas fisik.
c. Melancarkan peralihan antar kelas.
d. Membangkitkan kembali energy yang mulai sedikit.
e. Mengurangi strees.
f. Menciptakan suasana positif di sekolah.
Cara yang dapat dilakukan untuk mengembagkan intelegensi music di sekolah adalah:
a. Memasang music latar yang lembut dan universal di sekolah.
b. Melalui pembelajaran masing-masing bidang studi yang ada di sekolah.
Misalnya: menciptakan lagu-lagu yang bertemakan materi yang sedang diajarkan.
4. Proses Pembelajaran yang Mengembangkan Intelegensi Kinestetik.
Ada bermacam-macam aktivitas tectile-kinestetik yang bertujuan untuk mempertinggi pembelajaran siswa di segala usia, yaitu:
a. Lingkungan fisik : daerah ruang kelas, dalam merencanakan ruang kelas, para pengajar membuat ruangan yang bisa membuat perasaan siswa menjadi senang.
b. Drama : teater, permainan peran, drama kreatif, simulasi ( keadaan yang meniru ) keadaan sebenarnya.
c. Gerak kreatif : memahami pengetahuan jasmaniah, memperkenalkan aktifitas gerak kreatif,menerapkan gerak kreatif keahlian dasar, menciptakan isi yang lebih terarah dari aktivitas gerakan.
d. Tari : bagian-bagian tari, rangkaian pembelajaran melalui tari.
e. Memainkan alat-alat : kartu-kartu tugas,teka-teki kartu tugas, menggambar alat-alat tambahan, membuat tanda-tanda bagi ruang kelas.
f. Permainan ruangan kelas : Binatang buruan ( binatang pemakan bangkai) permainan-permainan lantai besar, permainan-permainan merespon gerak fisik secara meanyeluruh, permainan mengulang hal yang umum.
g. Pendidikan fisik : karakteristik dari seorang pengajar ( tentang ) fisik , pendidikan petualang, jaringan laba-laba, piramida sepuluh orang, petualangan-petuangan sepuluh orang.
h. Kesempatan-kesempatan latihan.
i. Perjalanan ke alam bebas.
5. Proses Belajar yang Mengembangkan Intelegensi Visual Spasial.
Proses belajar ini merupakan suatu proses yang mengembangkan kemampuan persepsi. Imajinasi dan estesti dalam buku Mc.Kim Experience in Visual thinking.
Mengidentifikasi 3 komponen yang luas dari gambaran visual :
a. Gambaran eksternal yang kita rasakan.
b. Gambaran internal yang kita impikan / kita bayangkan.
c. Gambaran yang kita ciptakan melalui gambar yang tak beraturan.


6. Proses belajar yang mengembangkan Intelegensi Interpersonal.
a. Membangun lingkungan interpersonal yang positif.
Kriteria group yang efektif :
1) Lingkungan kelas hangat dan terbuka.
2) Guru dan siswa bersama-sama membuat tata tertib dan sanksi berdasarkan kemanusiaan.
3) Proses pembelajaran saling ketergantungan yaitu melakukan peran aktif dan kontribusi darai semua siswa.
4) Belajar bertujuan untuk belajar dari kurikulum, dari teman dan dari pengalaman.
5) Tugas dan tanggung jawab dibagi rata, sehingga setiap anggota kelas merasa penting dalam kelas.
b. Pembelajaran kolaboratif.
c. Penanganan konflik.
d. Belajar melalui tugas sosial / jasa.
e. Menghargai perbedaan.
f. Membangun persfektif yang beragam.
g. Pemecahan masalah global dan local dalam pendidikan multicultural.
h. Tekhnologi yang meningkatkan intelegensi interpersonal.

7. Proses Belajar yang Mengembangkan Intelegensi Intrapersonal.
a. Membangun suatu lingkungan untuk mengembangkan pengetahuan diri.
b. Penopang penghargaan diri.
c. Penyusunan dan pencapaian tujuan.
d. Keterampilan berfikir.
e. Pendidikan keterampilan emosional dalam kelas.
f. Penulisan jurnal.
g. Mengetahui diri sendiri melalui orang lain.
h. Merefleksikan ketakjupan dan tujuan hidup.
i. Belajar mengarahkan diri sendiri.
j. Teknologi yang mempertinggi intelegensi interpersonal.
8. Proses Pembelajaran yang Mengembangkan Intelegensi Naturalisme.
Proses pembelajaran ini merupakan suatu proses yang mengembangkan kemampuan naturalism pada siswa yaitu :
a. Menata lingkungan sekolah yang hijau dan asri.
b. Dalam mempelajari materi yang berhubungan dengan klasifikasi tumbuhan, ekosistem, pencemaran lingkungan siswa diajak langsung kea lam.
c. Sekolah menyediakan alat bantu pelajaran seperti torso dan charta tentang organ-organ tubuh manusia.
d. Menerapkan pelajaran pertanian atau perikanan yang disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing.
e. Sekolah mengembangkan proses pembelajaran yang dapat membangkitkan kepedulian siswa terhadap lingkungan.
9. Proses Pembelajaran yang Mengembangkan Intelegensi Emosional.
Pembelajaran emosional dapat meningkatkan sistem pembelajaran kognitif, dimana dengan cara ini otak emosional terlibat dalam pembelajaranpenalaran sama kuatnya dengan otak berfikir. Prinsip ini harus diterapkan oleh guru dalam mengajar, menurut Goleman, 1995 ( dalam Barbara K.Given, 2002). Hal-hal yang dapat diterapkan oleh guru dalam mengembangkan intelegensi emosional adalah sebagai berikut:
a. Sebaiknya guru dalam mengawali pelajaran dengan sikap lemah lembut, dengan cara bertahap meningkatkan antusiame.
b. Menciptakan suasana kelas seperti yang diinginkan siswa.
c. Guru bias menggerakkan siswa perlahan-lahan menuju keadaan sosial emosional yang berbeda.
d. Dalam mengajar hendaknya guru mengembangkan rasa humor yang bias menurunkan ketegangan yang mungkin timbul akibat ketidak selarasan antara guru dan siswa.
10. Proses Pembelajaran yang Mengembangkan Intelegensi Spiritual.
Dalam proses pembelajaran sebaiknya memperluas cakupan dari ayat- ayat Alquran serta makna-makna yang terkandung di dalamnya sehingga mengakar di dalam jiwa dan pikiran siswa dengan cara menarik hikmah dari materi pembelajaran yang disampaikan kepada siswa.
Implikasi materi pembelajaran IPA dalam mengembangkan intelegensi spiritual sangat banyak sekali, sebagai contoh tentang tata surya. Dalam materi ini siswa dituntut untuk menguasai matahari sebagai bintang, matahari sebagai pusat tatasurya, rotasi dan revolusi bumi, pergerakan 9 macam planet dan sebagainya. Di akhir pembelajaran guru mengajak siswa untuk mengamati keteraturan gerak anggota tata surya dan menghubungkannya dengan surat yasin ayat 37 sampai ayat 40 yang artinya :
“ Dan sebagai tanda kebesaran Allah bagi mereka adalah malam, Kami tanggalkansiang dari malam itu, maka seketika itu mereka berada dalam kegelapan. Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Allah yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bulan, sehingga ( setelah ia sampai ke tempat peredaran terakhir ) kembali seperti bentuk tanndan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya ”.

DAFTAR PUSTAKA

Amri, A. ( 2008 ). Pedagogik Transformatif Aceh : FKIP Universitas Syah Kuala.
Kartadinata, S. dkk. ( 2007 ). Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan Dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan. Jakarta : Dirjen PMPTK DEPDIKNAS
Suparno, P. ( 2007 ). Kajian dan Pengantar Kurikulum IPA SMP. Yogyakarta : Universitas Sanata Dharma.
Rengganis. ( 2007 ). Multiple Intelegence ( Kecerdasan Majemuk ). [ Online ]. Offset.Tersedia:http:/www.rengganis.blogspot.com [ 20 Oktober 2008]
Purwa. ( 2007 ). Mengenal Beragam Kecerdasan. [ Online ]. Offset.Tersedia:http:/www.bpurwa.blogspot.com [ 20 Oktober 2008 ]
SMUN 7 Denpasar. ( 2007 ). Mengenal Beragam Kecerdasan [ Online ]. Offset.Tersedia:http:/www.smun7.denpasar.sch.id [ 20 Oktober 2008]
Wordpress. ( 2007 ). Kurikulum Berbasis Kecerdasan Anak ( Multiple intelegensi). [ Online ]. Offset. Tersedia : http: /www. curriculumstudy. files.wordpress.com [ 20 Oktober 2008]
Gemasastrin. ( 2008 ). Teori Multiple Intelegence dalam Pendidikan Anak [Online ]. Offset.Tersedia:http:/www.gemasastrin.wordpress.com [ 20 Oktober 2008 ]
 ref: